Selasa, 05 Jul 2022
  • Selamat datang di website Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari ~ Penerimaan Peserta Didik Baru Gel II : 5 juni s/d 21 Juli 2021

Paradigma Infaq. Opini Ustad Muhammad Subairi

Apa itu paradigma? Thomas Hunt mengatakan bahwa paradigma adalah sejumlah keyakinan dan nilai-nilai yang dipegang oleh masyarakat akademis tertentu. Paradigma ini akan mempengaruhi seluruh konstalasi berfikir, teori, metode, prinsip, sampai kepada implementasi.

Al-Qur’an berisi sejumlah keyakinan dan Al-Qur’an pun berisi nilai-nilai. Al-Qur’an dipegang oleh masyarakat akademis muslim sedunia, maka Al-Qur’an bagi umat muslim adalah paradigma hidup.

Banyak sekali ayat didalam Al-Qur’an dan hadist yang memerintahkan dan memotivasi kita untuk gemar berinfaq. Orang yang gemar berinfaq otomatis semua urasannya akan dimudahkan oleh Allah SW. Inilah yang diistilahkan dengan auto facility atau najmun bissuhulah (bintang kemudahan). Jadi siapapun yang ingin memperoleh kemudahan berinfaq apalagi dibulan suci Ramadhan yang sangat mulia.

Jika kita ingin hidup susah silahkan pelihara sifat Bakhil (pelit). Saya pribadi sudah banyak melihat kasus. Diantaranya, ada orang susah antri di kota Madinah. Setelah dekat atau tiba antriannya tiba-tiba lupa pasportnya entah dimana. Orang semua pergi ia masih mencari pasport, padahal dia seorang pejabat tinggi, duitnya banyak.
Paradigma keilmuan infaq ini mengacu kepada ilmu apa sih? Ilmu manajemen atau matematika kampus. Waktu kita kuliah sudah pasti belajar matematika kampus, tetapi matematika kampus berbeda dengan matematika Rezki.

Contoh sederhana 2+2 = 4 ini namanya matematika kampus, akan tetapi jika matematika rezki, 2+1= 10, 11, 12. Guru saya pernah mengatakan bahwa kalau mau menikah jangan hitung-hitung gaji kalian berapa, kucing tidak pernah hitung gaji saat mau menikah, mau menikah nikah saja.

Gimana ustad kalau masih mau kuliah, jika anda masih mau kuliah dan anda punya kemampuan kuat menikah agar anda bisa selamat dari perbuatan zina ya menikah saja, “lebih baik kuliah bawa anak dari pada sudah sarjana anaknya belum punya bapak”,.

Bagaimana worldview atau cara pandang Islam tentang infaq? Secara sederhana infaq itu bermakna membelanjakan harta. Kalau kita membelanjakan harta memberikan buka puasa bagi orang yang berpuasa atau memberikan kelebihan harta kita buat orang yang meminta-minta itu namanya infaq fisabilillah.

Ada juga infaq fisabilillah thagut atau syaitan, jika harta kita gunakan membayar pelacur atau wanita tuna susila. Metode berinfaq itu ada yang wajib ada yang sunnah.

Infaq wajib itu diklasifikasikan oleh ulama kepada dua bahagian yang pertama ada yang muqaddar (sudah ditentukan) kadar dan takarannya seperti zakat mal 2,5 % atau zakat fitrah satu sho’ atau 3,5 liter beras atau 2,5 kilogram . Kalau di Makkah Al-mukaramah, 2,5 kilogram kurma.
Harga kurma itu yang biasa 20 real per kilogram, jadi kalau 2,5 kilogram berarti 50 real dikali 4.000 per real berarti kita harus berzakat fitrah sebesar Rp. 200.000.

Masyarakat Indonesia mayoritas mengkonsumsi beras, harga beras rata-rata perkilogram sepuluh ribu jika 2,5 kilogram beras seharga 25.000 jika dibulatkan menjadi 30.000. Tetapi kan berbeda kalau kurma langsung dimakan sedangkan beras harus dimasak dulu, setelah masak kita harus membeli lauk pauk dan ikannya, makanya kalau bisa jangan pas harga beras saat kita mengeluarkan zakat fitrah, wajar kalau ada orang yang mengeluarkan zakat fitrah melebihi dari semesti karena ada hal yang dipertimbangkan dalam rangka memberikan kebahagiaan dan berbagi dengan fakir miskin.

Ada infaq wajib yang ghairu muqaddar (tidak ditentukan) seperti seorang suami menafkahi istrinya setiap harinya tidak ditentukan besarannya disesuaikan dengan kemampuan.

Di bulan suci Ramadhan ini terkadang muncul tafsir tektualis yang berasumsi bahwa mengeluarkan zakat jika konversi ke uang maka zakatnya tidak sah. Ini perlu kajian yang lebih mendalam karena sepengetahuan saya bahwa esensi dari zakat fitrah tuhratal lisshaim (membersihkan orang yang berpuasa) dan tukmatal lilmasakin (memberi makan orang miskin), sementara uang itu lebih fleksibel karena masyarakat lebih mudah membelanjakan untuk keperluannya saat hari raya idul Fitri.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR