Senin, 28 Nov 2022
  • Selamat datang di website Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari ~ Penerimaan Peserta Didik Baru Gel II : 5 juni s/d 21 Juli 2021

Kebangkitan Umat Islam Dimulai Dari Masjid

Kebangkitan Umat Islam Dimulai Dari Masjid. Ditulis oleh: Ustad Muhammad Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari.

Salah satu kewajiban takmir masjid dibulan suci Ramadhan ini adalah mensejahterakan jamaahnya, menjadi muzakki bukan mustahiq zakat. Itulah sebabnya didalam Al-Qur’an setelah perintah kewajiban melaksanakan shalat digandeng dengan kewajiban menunaikan zakat.

Ada dua interpretasi ulama tafsir. Yang pertama mengatakan bahwa “kita sebagai umat Islam tidak ada gunanya melaksanakan ibadah shalat jika enggan menunaikan ibadah zakat”,. Kemudian interpretasi yang kedua mengatakan bahwa “umat Islam jangan selamanya menjadi penerima zakat tetapi sebagai umat yang produktif harus bermetamorfosis menjadi pendistribusi zakat”,.

Sesungguhnya istilah masjid itu mempunyai konsekuensi yang besar, karena bukan masjid kalau di dalamnya tidak mempunyai program pemberdayaan perekonomian jamaahnya. Ketika suatu masjid hanya dijadikan pusat ibadah ritual kendatipun masjidnya mempunyai bangunan yang megah itu namanya mushalla (tempat shalat semata).

Seyogianya dengan dana masjid itu para takmir masjid harus dioptimalkan untuk membangun kesejahteraan jamaahnya, supaya jamaah masjid itu bisa membayar zakat. Beralih status dari mustahiq menjadi muzakki dengan menggalakkan program pemberdayaan perekonomian jamaahnya.

Ibadah kaum muslimin itu sebenarnya adalah sumber kesejahteraan, contohnya yang paling sederhana ibadah shalat. Orang yang ingin melaksanakan ibadah shalat pasti membutuhkan sarung, baju dan peci, ini semua adalah sumber ekonomi.

Menurut data Inter American Development Bank (IDB) mengatakan bahwa, jika jamaah haji 4 bulan berada ditanah suci maka akan menghabiskan belanja 950 triliun. Siapa yang menikmati ini semua, 40% untuk transportasi udara (perusahaan boeing & Airbus), 15% untuk oleh-oleh (peci, surban, jubah, boneka unta dan lainnya) semua produk ini adalah produk China dan Amerika. Sementara Saudi hanya mendapatkan 10% dari penjualan avtur sebagai bahan bakar pesawat, ini ibadah kita loh justeru yang meraih keuntungan umat dan bangsa lain.

Pada saat hari raya idul Adha, semua umat Islam berkeinginan untuk berkurban. Di Mina, Jabal Qurban, selama empat hari ( 10 Dzulhijjah hari raya idul Adha, 11, 12, 13 hari tasyrik) antusias umat Islam melaksanakan ibadah qurban sangat tinggi sekali. Domba yang dibutuhkan sekitar 2.900.000 ekor diluar sapi dan unta, ini semua di impor dari New Zealand.

Dalam konteks Indonesia, semestinya para peternak kita itu sudah sejahtera mengelola qurban dan aqiqah, pasarnya ini masih luar biasa apabila bisa bekerja sama dengan Saudi untuk di Mina, selama musim haji. Sebahagian dari takmir masjid, baru mengurusi bangunan, masih belum bergerak seperti orang musyrik dan orang kafir.

Pengurus masjid itu lazimnya hanya mengurus bangunannya, buat menara yang tinggi, sementara orang-orang miskin, jamaah yang mempunyai ekonomi dibawah rata-rata, tidak pernah dipikirkan. Hal ini terjadi karena takmir masjid belum melaksanakan fungsi ketakmirannya secara profesional.

Memakmurkan masjid itu tidak hanya sekedar mengurus bangunan masjid, keindahannya, kebersihannya dan kerapiannya. Sebab kalau hanya demikian orang kafir lebih pintar. Ketika orang musyrik dan orang kafir berasumsi kami lebih pantas mengurusi Masjidil Haram, yang megah dibandingkan dengan Masjid Quba yang baru didirikan oleh Nabi Besar Muhammad SAW, di Madinah, yang sangat sederhana sekali.

Mereka menyediakan air minum, untuk masyarakat yang berjamaah ke Masjidil Haram. Menyediakan kain ihram untuk orang yang ingin melaksanakan ibadah tawaf dan sa’i. Dan mereka menyediakan penginapan bagi orang yang ingin melaksanakan ibadah haji dan umrah. Tetapi Allah SWT, mengatakan tidak pantas dan tidak layak orang kafir disebut memakmurkan masjid sebagimana dinukil surah At-taubah ayat 17.

Menurut teori Al-Qur’an secara teknis tugas dari pada takmir masjid itu adalah aqimis sholah (menegakkan shalat). Yang pahami oleh ulama tafsir memobilisasi dan mengorganisir komunitas di sekitar masjid untuk berbondong-bondong shalat berjamaah di Masjid tidak di rumahnya masing-masing.

Sekarang ini masjid sudah ada di kampus-kampus, konsekuensinya tidak boleh ada mahasiswa putus kuliah karena biaya. Berdosa kalau ada takmir masjid menggunakan biaya sumbangan hanya untuk fisik/bangun semata. Sama dengan orang musyrik yang hanya mengurusi bangunan masjid saja bukan ngurusin umat.

Post Terkait

0 Komentar

KELUAR