Rabu, 27 Okt 2021
  • Selamat datang di website Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari ~ Penerimaan Peserta Didik Baru Gel II : 5 juni s/d 21 Juli 2021

Bagaimana Pondok Pesantren Bisa Menjadi Institusi Islam Yang Berkaliber?

Bagaimana Pondok Pesantren Bisa Menjadi Institusi Islam Yang Berkaliber?

Bagaimana Pondok Pesantren Bisa Menjadi Institusi Islam Yang Berkaliber?

Ditulis oleh: Ustad Subairi, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darul Madinah Wonosari

Mari kita sejenak merenung bagaimana sebuah institusi bisa menjadi Pondok Pesantren yang berkaliber, khususnya di era revolusi industri 4.0 sekarang ini. Apa itu sesungguhnya kaliber, sejak kecil saya mendengar istilah kaliber, kalau bicara senjata pasti ada kalibernya, berapa kalibernya itu? Postol berkaliber berapa? Peluru berkaliber berapa? Saya mendengar istilah ini dan saya tidak pernah paham apa yang dimaksud dengan kaliber, sampai saya menjadi dewasa.

Suatu saat saya membuka kamus dan menemukan bahwa kaliber itu secara umum menyatakan ukuran peluru yang dipakai pada senjata api. Kaliber dilihat dari diameter atau garis tengah peluru, atau dari diameter isi lorong laras. Suatu saat saya berceramah dan disitu ada seorang tentara, lalu saya bertanya betulkah kaliber itu menentukan jangkauan sebuah peluru langsung dia mengatakan betul.

Betulkah kaliber peluru itu menentukan daya dobrak sebuah peluru? Betul ustad, lalu dari situ saya mengambil makna bahwa kata kaliber dipakai untuk istilah sosial sering kita mendengar sosok yang berkaliber. Kunjungilah perguruan tinggi yang namanya Universitas Harvard ,Universitas ini merupakan salah satu universitas swasta di Cambridge, Amerika Serikat  terbaik dunia. Kenapa? Karena merupakan universitas yang berkaliber, artinya apa? Perguruan tinggi tersebut mempunyai daya jangkau yang lebih dibanding perguruan tinggi yang lain, daya dobraknya lebih tajam dibanding perguruan tinggi yang lain.

Kalau sosok berkaliber artinya dia menjadi pembeda dari pada sosok yang lain, dia bisa melakukan yang berbeda dibanding orang-orang yang lain sama dengan peluru yang mempunyai kaliber yang tinggi. Apa contohnya bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang itu berkaliber? Jawabannya sederhana biasanya orang yang berkaliber itu namanya selalu ditulis dijadikan sebagai Monumen, ditulis sebagai nama jalan, nama bandara, pasti orang itu berkaliber.

Saya berrefleksi kenapa saya belum ditulis disuatu nama tempat berarti saya belum berkaliber, dan inti semua ini bagaimana kita berkaliber dimata Allah SWT. Bagaimana sejatinya Pondok Pesantren menjadi institusi berkaliber paling tidak ada tiga hal yang patut untuk selalu diasah yang pertama bagaimana sebuah Pondok Pesantren selalu menjaga citra diri menjadi agent perubahan sekaligus menjaga tradisi.

Citra dan martabat kita harus selalu dijaga, Pondok Pesantren itu adalah institusi islam, citranya dijaga. Bagaimana menjaga citra? Label keislaman itu tidak boleh hilang, para pembinanya minimal harus pintar berceramah kalau pembinannya tidak pintar ceramah berarti citra itu tergerus, alumninya pintar minimal juga pintar mengaji itu adalah citra, kalau tidak tau mengaji berarti itu mengkikis citra.

Menjadi agent perobahan bukan menjadi korban dari perobahan. Siapa yang menjadi korban perobahan? Dulu Pembina-pembinanya begitu juga santrinya rajin mengaji setelah ada face book tidak lagi mengaji tapi asyik main facebook , itu namanya korban perubahan. Dulu semangat mengaji kitab sekarang baca WhatsApp, dulu pintar senyum sekarang dengan lahirnya gadget atau smartphone mereka senyum sendiri seperti orang gila.

Institusi yang ingin bertahan di era revolusi industri 4.0 harus menjadi agent perubahan, dulu ceramah mendengan memakai audio tidak cukup sekarang tapi berkembang menjadi multi media. Kemudian yang kedua meningkatkan penguasaan ilmu dan metodelogi saat kita diwisuda bukan pertanda bahwa anda selesai belajar, ini justeru menjadi awal untuk bisa melakukan pembacaan menuju bab berikutnya. Tidak kalah pentingnya adalah metodelogi ilmu mentransfer  pengetahuan, dulu kita cukup ceramah tapi sekarang tidak cukup tapi kita harus memunculkan inovasi-inovasi untuk bisa mentransfer, mengajarkan ilmu pengetahuan lewat cara teknologi atau multimedia.

Mentransfer ilmu dengar berbagaimacam variasi metode. Lanjut yang ketiga adalah harus selalu mengasah karakter dan Soft Skill . Karakter itu adalah mentalitas diri, akhlak, etos sesuatu yang melekat dalam diri kita. Perilaku social kita tidak terlepas dari apa yang sudah menjadi ciri khas kita itulah karakter.

Dalam revolusi industri sekarang ini perubahan sangat cepat maka dibutuhkan mengasah karakter. Karakter apa yang harus diasah? Pertama memiliki karakter kemandirian, jangan cengeng, jangan mudah menyerah, never give up itu karakter. Karakter apa yang berikutnya? Katrakter control diri tidak  baper. Kata Baper merupakan sebuah kata singkatan yang berasal dari kalimat (bawa perasaan), tidak mudah tersinggung, sedikit-sedikit di WA tersinggung langsung keluar dari grup.

Beginilah cara kita hidup, kita belajar bagaimana kita beradaptasi tanpa menghilangkan identitas diri dan itu tidak terlepas dari karakter control diri. Karakter yang lain adalah karakter inovasi Pondok Pesantren yang baik yang ingin berkaliber dia harus berinovasi, jangan jalan ditempat. Dia hidup tidak memakai otot tetapi otak (inovasi).

Aspek yang tak kalah pentingnya yang harus kita asah adalah jiwa kewirausahaan, jiwa entrepreneurship yang selalu harus kita munculkan. Inilah yang melahirkan kemandirian, jangan selalu berfikir selalu mau menjadi pegawai, menjadi ASN bagus tapi itu bukan keharusan.

darulmadinah

Tulisan Lainnya

0 Komentar

KELUAR